Universitaas Wahid Hasyim

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, October 25, 2017

Kenapa Harus Berorganisasi?

Pasti dibenak kita pernah bertanya seperti itu. Bahkan saya sendiri pernah berfikir seperti itu. Bukankah tugas kita sebagai mahasiswa dan mahasiswi hanya kuliah, membayar admistrasi, serta mengikuti tes. Hanya itu bukan? Lantas kenapa harus berorganisasi?

Begini teman, mungkin kebanyakan orang fikir organisasi itu tidak penting. Itu salah besar! Hakikatnya manusia itu hidup bersosial, hidup saling membutuhkan satu sama lain. Dengan berorganisasi menuntut kita menjadi orang yang lebih berani.

Di dalam kelas saya, ada salah satu mahasiswa yang tidak mengikuti satupun organisasi. Alhasil dia hanya diam dan tidak aktif dalam berdiskusi. Organisasi membuat kita menambah wawasan pengetahuan. Seperti yang saya lakukan.

Saya memilih organisasi LPM karena itu dunia saya banget. Dimana bakat minat saya seperti tersalurkan. Disini juga banyak orang yang hebat, yang bisa membuat saya dalam memecahkan suatu masalah.

Begini teman. Tidak usah banyak-banyak berorganisasi tapi hasil nihil. Mending satu atau dua tapi kita berperan aktif dalam kegiatan itu sendiri. Yang bisa menumbuhkan rasa semangat dan keuntungan dalam diri kita.

Kenapa Harus Berorganisasi?

Karna organisasi menjadikan diri kita lebih aktif dalam bermasyarakat, berteman, dan bisa berperan aktif dalam mengembangkan suatu negara.
Percayalah!

Monday, October 23, 2017

Penantian Dalam Ikhlasnya Cinta


"Menikahlah denganku."

Sebuah pesan mengejutkanku. Bagaimana bisa, setelah bertahun-tahun menghilang kini dia hadir lagi dan mengajak aku untuk menikah dengannya.

Dia Rasyid, mantan kekasihku semasa SMA dulu. Kami berpacaran selama dua tahun dan putus disaat kelulusan sekolah. Rasyid meneruskan untuk kuliah sedangkan aku bekerja. Awalnya kami masih berkomunikasi dengan baik, hingga lambat laun kita menghilang tanpa kabar.

Aku memutuskan untuk berhijrah dari perilaku yang kurang baik hingga berhijrah berbusana muslim dengan baik. Langkahku tak henti disitu, aku memutuskan untuk bekerja di luar negeri menjadi TKI. Hari ini genap sudah setahun aku bekerja di negara tetangga.

Hari-hari yang kujalani normal seperti biasa tapi tidak dengan detik ini setelah dia mengirim pesan untukku. Ada gejolak cinta yang muncul kembali, ada rasa aneh menyelimuti hatiku.

"Menikahlah denganku Maulita." Pesannya lagi dalam messenger. Aku berdegup, gugup, dan juga nervous. Ada sedikit air yang menetes dari mataku.

"Menikahlah denganku, aku tunggu kepulanganmu."

Pesan itu menjadi titik awal bermulanya cintaku yang hilang. Aku tau bahwa pacaran dalam Islam tidak dibenarkan. Tapi aku dan Rasyid tidak berbuat apa-apa​, toh kami akan menikah setelah ini.

***

Setahun berlalu dengan cepat, aku pulang untuk menjeput cinta yang dulu kandas.

"Kamu semakin cantik dengan jilbab yang kamu pakai," sanjungnya padaku.

"Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku."

"Karna aku sudah berubah Maulita. Aku berhijrah."

"Kapan kamu mau menikahi aku mas Rasyid. Ini sudah sebulan aku pulang, tapi tidak ada kepastian apapun darimu."

"Bulan depan aku wisuda, setelah wisuda aku akan menikahi mu."

Semua normal seperti biasa, aku masih sering berkomunikasi dengannya lewat ponsel. Kami jarang bertemu hanya sesekali, itupun tidak lama.

Sebulan berlalu, Rasyid wisuda dengan IPK cumlaude. Aku merasa bangga padanya, terlebih lagi setelah ini kami akan menikah.

Cuaca begitu cerah. Iya, secerah hatiku. Hari ini aku akan bertemu dengan Rasyid. Sudah berbelas baju aku pakai, tapi tidak ada yang pas. Mungkin karena ini efek sangking semangatnya aku.

"Kita ketemu di terminal bus." Pesan singkat darinya. Aku mengerutkan kening, ada apa? Kenapa di terminal bus? Bukannya momen indah ini harus berada di sebuah taman?

Aku tergesa-gesa​ ketika melihat jam tangan yang aku kenakan. Berlari secepat mungkin, dan berharap bisa segera sampai di terminal bus. Aku melihat Rasyid menggendong tas ransel besar. Menanti kedatanganku.

"Mau kemana?" Tanyaku tanpa menyapanya terlebih dahulu.

"Aku harus pergi."

"Pernikahan kita?"

"Sabar Maulita, aku akan mencari modal untuk pernikahan kita. Aku ke luar kota untuk bekerja. Tolong bersabarlah."

Aku mengangguk, sebegitu luluhnya aku pada Rasyid.

***

Sehari, dua hari. Sebulan, dua bulan. Hingga setahun. Dia tidak ada kabar, aku mulai pasrah. Cinta terhadap makhlukNya memang menyakitkan. Air mataku menetes mengingat janjinya. Aku ikhlas.

Alarm ponselku berbunyi. Jam tiga pagi. Aku mengusap mata, melangkah keluar mengambil air wudhu. Berdoa dan memasrahkan semuanya kepada sang khalik.

Ponselku berbunyi lagi, kali ini bunyi notice dari Instagram. Satu pesan masuk.

"Assalamualaikum ukhti Maulita. Saya Arif, ingin berkenalan dengan ukhti lebih dekat. Jikalau ukhti bersedia saya siap membawa kedua orangtua saya besok." Mataku terbelalak melihat pesan singkat dari ikhwan yang belum aku kenal.

"Wa'alaikumsalam. Bagaimana mas bisa mengirim pesan seperti ini?" Balasku.

"Saya sering stalking IG ukhti. Setelah sholat istikharah berulang kali, saya mantap mengatakan ini. Ijinkan saya untuk ke rumah ukhti."

"Bagi saya waktu tiga hari untuk memberikan alamat kepada kamu."

"Iya."

Aku mematikan semua jaringan komunikasi dari dunia nyata maupun dunia maya. Aku benar-benar bermunajat kepada Allah selama tiga hari. Hingga akhirnya aku memberikan alamat rumahku padanya.

***
Arif datang bersama kedua orangnya. Meminta izin kepada orang tuaku.

"Bagaimana Maulita?" Tanya bapak padaku. Aku hanya terdiam menunduk malu.

"Kalaupun Maulita belum bersedia, saya siap untuk berta'arufan lebih dahulu."

"Beri waktu saya satu bulan untuk mengenalmu," ucapku gugup.

Dari dalam budhe Sri, kakak ibuku keluar sambil membawa teh untuk Arif dan orang tuanya.

"Loh, pak Basuki? Ternyata yang mau jadi besan saya pak Basuki?" Ucap budhe membuat seisi rumah kaget. Ternyata bapak Arif adalah teman budhe Sri semasa sekolah dulu. Kedua orang tuaku semakin mantap dengan acara lamaran ini.

***

Kurang seminggu acara pernikahanku, setiap hari ku isi dengan mendatangi majelis ta'lim dan bertadarus. Mendekatkan diri pada sang pencipta.

"Aku ingin bertemu denganmu, temui aku sekarang ." Untuk kesekian kalinya aku terkejut dengan pesan seseorang.

"Apa kabar Maulita?" Sapanya. Aku hanya terdiam menunduk.

"Kamu tidak rindu padaku?" Lagi-lagi aku menunduk tak menjawab.

Aku memberikan kartu undangan pernikahan padanya. Sontak membuatnya terkejut.

"Kamu akan menikah?" Tanyanya. Aku memandanginya, terlihat dia sangat terpukul dengan kabar ini.

"Bagaimana bisa ini terjadi!" Serunya.

"Kamu pergi tanpa kabar," ucapku lirih.

"Aku pergi untuk kamu Maulita. Aku tidak memberikan kabar agar kamu tidak dirundungi kerinduan!"

"Kamu salah mas Rasyid! Justru dengan menghilangnya kamu membuatku semakin resah!"

"Menikahlah denganku Maulita!"

"Aku tidak bisa!"

"Menikahlah denganku Maulita!"

"Aku sadar, bahwa mencintai makhlukNya hanya akan menyiksa diri. Aku sadar usiaku sudah tidak muda lagi. Itu kenapa aku selalu meminta dan bertanya padamu kapan akan menikahiku. Tapi tidak ada tindakan yang jelas darimu. Aku sudah mengikhlaskan semua rasa yang pernah ada. Kali ini aku mencintai seseorang karena hanya ingin mengharapkan ridho Allah. Aku sudah yakin akan jalanku ini. Maafkan aku mas Rasyid," ucapku berlalu meninggalkannya.

Aku menoleh kebelakang dan menghampirinya lagi.

"Kalau tidak keberatan, jadilah saksi dipernikahanku nanti," ucapku padanya. Jelas sekali terlihat raut kecewa darinya.

Aku melangkah menjauh darinya, menghembuskan nafas. Berulang kali aku beristighfar. Aku ikhlas akan rasa dulu yang pernah hadir. Kini Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Saturday, October 21, 2017

Dua Ringgit

Mata uang Malaysia memang lebih tinggi daripada di Indonesia. Bayangkan saja, satu ringit disini sama saja 3000 rupiah di Indonesia. Angka yang besar bukan?

Meskipun begitu, nilai mata uang itu sama. Di Indonesia harga es teh seribu, sedangkan di Malaysia harga T'O ais seringgit. Sama bukan?

Kini hanya ada dua lembar uang seringgitan yang ada di dompetku. Maklum kalau karyawati akhir bulan, selalu bernasib buruk kalau tidak pandai menghemat.

Perutku sudah mulai keroncongan. Dari tadi siang aku belum makan apa-apa. Bahkan sampai sesiang ini aku belum mengunyah apapun untuk mengganjal rasa laparku.

"Dua ringgit, kalau di kampung udah jadi nemribu. Buat beli pecel, ama es cukup ini. Nah disini?" dumelku pada dompet yang berisi dua lembar uang seringgitan.

"Ke kedai makcik sajalah. Siapa tau masih ada ayam goreng. Cukuplah buat ganjel hari ini."

Aku melangkah perlahan menuju kedai makcik, tempat yang biasanya aku membeli nasi lemak kesukaanku. Dengan lemas ku paksakan kakiku agar sampai cepat di kedai makcik.

"Encik Ashraf?" Ucapku tatkala melihat pemuda handsome yang kemarin.

"Aih, Dian. Awak buat apa kat sini? Nak beli nasi lemak ke? sudah habislah Dian."

"Eh bukan cik, bukan nasi lemak," ucapku gugup ketika encik Ashraf memandangiku.

Aku terdiam sejenak, kuamati gadis di samping encik Ashraf. Putih, Tinggi, cantik, kelihatannya memang orang kalangan berada.

"Muka sama, cantik dan handsome. Pasti kalau dah khawin punya anak bakal comel," ceplosku.

"Aih, boleh ke?"

"Boleh, boleh saja kan puan?" tanyaku sok akrab.

"Mana boleh, saye ni adik bang Ashraf. Kalau bang Ashraf khawin dengan Dian. Sangat bolehlah tuh."

"Dian, ini adik saye namanya Shahira. Dia dah tunang, kalau saye ni masih solo, masih single," gurau encik Ashraf yang membuat Shahira tersenyum kearahku. Akupun jadi salah tingkah sendiri.

"Jangan panggil saye encik, panggil abangpun boleh. Saye kan muda lagi."

Aku benar-benar dibuat mati kutu.

"Ahad cuti ke? Nak ajak makan boleh?" tanya encik Ashraf padaku dengan tatapan tajam.

Belum sempat aku membalas, perutku sudah membalas duluan dengan suara suara aneh yang berasal dari perutku. Shahira dan encik Ashraf yang mendengarnya tertawa lepas. Sedangkan aku berusaha menahan malu.

"Kalau macam tu hari ini Ashraf belanja makan," cetus encik Ashraf.

"Hari ini uang dua ringgitnya utuh, Alhamdulillah," batinku sambil melihat dompet.

Penang, 121016

Bertemu Jodoh

Aku menyeka peluh yang menetes di dahi, membenarkan kacamata yang turun kebawah. Maklum, hidung aku pesek. Menatap atas lift yang tak kunjung turun, sialnya lift ternyata rusak.

Aku melihat kearah jam tangan yang selalu ku kenakan, tepat jam sepuluh. Mau tidak mau aku harus turun menuruni tangga. Aku berlari secepat mungkin, menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

"Telat sepuluh menit," ucap mbak Shinta datar.

"Lift rusak," ucapku membela.

"Tidak ada alasan, telat tetap telat."

"Nggak kasihan sama aku apa mbak? Sampai berkeringat gini, mana sekarang puasa lagi."

"Puasa bukan sebuah alasan Dian!"

Aku mendengus kesal, tak menjawab. Mbak Shinta mengeluarkan lembaran uang biru enam, melangkah masuk ke bus nomor 303 arah ke dermaga Ferry. Aku melangkah mengikuti dari belakang.

"Mau aku kenalin anak IPNU, IMM, atau Syekher Mania?" Tanyaku mencairkan suasana.

Mbak Shinta hanya menyengir lalu membuka smartphonenya.

"Jodohmu mbak," bisikku. Sontak membuat mbak Shinta berpaling mencari sosok lelaki.

"Itu, belakangmu."

Mbak Shinta menoleh kebelakang lalu kami tertawa bersama. Lelaki dibelakang mbak Shinta kurus, hitam, dan rambut gondrong.

"Ih dosa tau Yan!" Ucapnya sedikit menahan tawa.

"Ya habis mbak cemberut terus."

***

Perjalanan ke dermaga Ferry memerlukan waktu 15 menit, dan akhirnya kami sampai. Lelaki itu ternyata berbelok arah, menuju toko swalayan.

"Bukan jodoh," bisikku ke mbak Shinta. Dia hanya tersenyum sambil fokus ke layar smartphonenya.

Aku melangkah agak cepat disusul penumpang lainnya yang ingin menyeberang. Tapi tetap saja langkahku tertinggal jauh, mengingat energiku sudah habis saat turun lift tadi. Aku kembali menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

Ferry menepi, membuat penumpang yang sudah antri masuk kedalam Ferry. Teratur dan tidak desak-desakan meski banyak juga yang mengantri. Aku dan mbak Shinta mengambil tempat paling ujung. Menikmati setiap hembusan angin laut dan panorama yang begitu mengagumkan.

"Mbak, lihat deh. Itu kenapa lautnya ada yang warna biru dan warna putih."

"Mungkin itu ada ikannya Yan."

"Bukanlah mbak."

"Terus apa?" Lantas aku menunjuk kearah langit,

"Awan jawabannya mbak, yang warna putih itu karna laut tidak tertutupi awan."

"Ah, jones memang selalu pintar." Aku hanya tertawa mendengar ucapan mbak Shinta.

***

Butuh waktu sepuluh menit Ferry berlabuh ke seberang pulau. Mbak Shinta segera menarik tanganku, melewati penumpang lainnya. Berlari menuruni anak tangga menuju halte bus, butuh waktu limabelas menit kami menuruni anak tangga. Lagi-lagi aku menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

Mbak Shinta sibuk dengan smartphoneya. Lantas menelpon seseorang, kami tak menunggu lama. Kak Rossie datang memeluk kami.

Hari ini adalah hari spesialnya, karna ada sesi akad nikah. Kak Rossie sendiri yang menjemput kami, karna dia adalah sahabat karib mbak Shinta dari kecil.

Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil kak Rossie.

"Kak Rossie, pelan dikit dong. Dian takut," ucapku.

"Kakak takut telat sayang, lagian Shinta juga diam saja tuh."

"Mbak Shinta diam karna pengen muntah."

Muka mbak Shinta terlihat pucat, memegang erat sabuk pengaman.

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Kejadiannya sangat cepat. Mobil kami menabrak tiang pembatas jalan.

Aku membuka mata, mencoba berdiri. Mbak Shinta mengaduh sakit​, jidatnya lebam. Sedangkan kak Rossie, aku tidak bisa mendeskripsikan secara detail, yang pasti kepala kak Rossie berlumur darah.

Suasana menjadi ramai, banyak warga yang menolong. Salah seorang bapak paruh baya sibuk menelepon ambulan. Kejadiannya begitu cepat, nyaris aku tak menyadarinya.

***

Ruang tunggu begitu menegangkan. Aku dan mbak Shinta yang kepalanya terperban menunduk lesu di kursi belakang. Ayah dan ibu kak Rossie berdiri penuh ketakutan. Sedangkan mas Tegar, calon suami kak Rossie menunggu tepat di pintu ruang UGD.

Dokter keluar sambil menunduk, menggelengkan kepala lalu menepuk bahu mas Tegar. Melihat itu ibu kak Rossie memeluk erat suaminya. Mas Tegar hanya tertunduk. Sedangkan aku dan mbak Shinta saling menatap tak percaya.

Mbak Shinta langsung berlari ingin sujud di kaki ibu kak Rossie. Tapi langsung dicegahnya.

"Bukan salahmu nak," ucap ibu memeluk erat mbak Shinta.

"Kalau bukan karena ingin menjemputku, kejadiannya tidak akan seperti ini buk," mbak Shinta menangis terisak.

Mas Tegar melangkah lesu menghampiriku.

"Kau tau Dian? Jodoh itu bukan hanya soal ijab qobul. Tapi jodoh bisa juga bernama kematian," ucapannya lantas meninggalkanku.

"Mas Tegar mau kemana?" Teriakku.

"Masjid."

Aku begitu melihat ketegaran dimata mereka. Ibu yang tidak menyalahkan mbak Shinta, mas Tegar yang percaya akan takdir. Dan ayah yang selalu ada buat ibu.

***

Aku dan mbak Shinta melangkah lesu menaiki kapal Ferry. Kami sempat menoleh kebelakang melambaikan tangan ke arah ibu dan ayah. Cuaca kali ini mendung. Gerimis mengiringi perjalanan pulang kami setelah dua hari menginap dirumah almarhum kaka Rossie.

Tanganku mengadah menampung air yang turun, ternyata jodoh itu bukan sekedar aku suka kamu lalu ijab qobul. Tapi ada juga jodoh yang lain, jodoh yang tak bisa kita hindari. Jodoh yang bernama kematian.

End-

The Gondrongs

Suatu kesempatan yang menarik bagi saya bergabung di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Di mana saya akan mengembangkan bakat dan minat yang mengarah ke jurnalistik.

Sabtu malam, 21 Oktober 2017. Di Tembalang Semarang, LPM  Menteng mengadakan PJTD (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar). Ada tiga mahasiswa aktivis di LPM dan PPMI. Bukan siapa dia dan apa jabatan dia yang akan saya bahas. Melainkan, mengapa mereka bertiga berambut gondrong? Apakah anak sastra dan seni itu identik dengan rambut gondrong? Itu yang ada di benak saya.

Mas Maheng, menceritakan sebuah kisah di masa orde baru mengenai rambut gondrong.
Anak muda zaman orde lama lazimnya berwatak keras lantaran sedari kecil telah disuguhi pergolakan politik. Pada Orde Baru, anak muda sudah dimanjakan lantaran semua urusan politik ditangani oleh bapak.

Anak muda dan masyarakat di luar pemerintahan disematkan status floating mass atau massa mengambang. Floating mass ditandai oleh reduksi intensitas peran politik masyarakat menjadi hanya lima tahun sekali, yakni ketika Pemilu saja.

Selain itu, invasi budaya luar ke Indonesia pada masa Orde Baru lebih masif ketimbang di era sebelumnya. Anak muda mulai mengenal budaya hippies yang dianggap memberi pengaruh buruk pada masa itu.

Salah satu simbol budaya hippies adalah rambut gondrong pada lelaki, kendati gondrong tak hanya simbol dari budaya itu saja. Kemudian lahirlah kebijakan pemerintah yang mengejutkan, yakni pelarangan rambut gondrong untuk kaum laki-laki.

Media massa di masa Orde Baru secara intensif mengonstruksi stigma buruk terhadap anak muda berambut gondrong. Misalnya di harian Pos Kota tanggal 5 Oktober 1973 yang memuat berita berjudul “7 Pemuda Gondrong Merampok Bis Kota”.
Itu mengapa rambut gondrong pada masa itu salah satu perlawanan atas doktrin yang negatif tersebut.

Selain itu, mas Maheng menjelaskan bahwa rambut gondrong adalah salah satu sunnah Nabi. Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)
"Saya memanjangkan rambut bukan karena perlawanan ataupun sunnah Nabi. Melainkan saya ingin tampil beda di kehidupan sehari-hari, terutama di keluarga," jelasnya.

Adapun mas Tamam, selaku Sekjen LPM berbicara tentang rambut gondrongnya. "Saya ingin menikmati ciptaan Tuhan, dengan cara memanjangkan rambut. Dan itu adalah kebebasan."

"Orang itu berhak memilih sesuatu, asal dia berani dan selalu jujur dalam apapun yang dia buat," tambah mas Maheng.

Suatu alasan yang menurut saya masuk akal. Semua adalah pilihan masing-masing. Tidak ada yang melarang asal itu tetap ada pada norma agama dan bangsa. Dan mereka ingin membuktikan bahwa doktrin negatif gondrong itu salah.

Semarang, 21 Oktober 2017
Dian Al Qomariyah

Wednesday, April 19, 2017

Rapuh

Aku memiliki akun Facebook sejak tahun 2010. Sewaktu aku masih duduk di bangku SMP. Waktu itu belum banyak yang memiliki akun Facebook. Jangankan komentar, like yang mampir di statusku pun bisa dihitung jari.

Tapi tidak setelah aku mengonfirmasi pertemanan dari El Fatih. Dua bulan penuh aku menulis status, dan dua bulan penuh dia selalu hadir di kolom komentar.

Wawasannya luas, dia selalu bisa membuat aku terpukau dengan setiap bait komentarnya. Singkat cerita kita jadi dekat. Selidik demi selidik dia ternyata anak kampung sebelah.

Pada akhirnya kita tidak hanya berteman di dunia maya, tetapi juga berteman di dunia nyata. Hingga suatu hari perasaan aneh muncul di hatiku. Aku selalu resah setiap kali dia menghilang tanpa kabar.

Hari ini tepat 7 tahun aku berteman dengan Fatih di Facebook. Bukan hal yang aneh kan, jika perempuan menyatakan cinta dulu.

Cuaca memang sedang tak mendukung. Awan hitam membungkus langit biru yang kapanpun bisa menumpahkan amarahnya. Ku lihat Fatih sedang asik bercerita dengan Mira, sahabatku. Sebulan lalu aku mengenalkan Mira ke Fatih. Fatih teman ku sejak SMP sedangkan Mira teman sekampus ku.

Mira selalu bilang kalau Fatih itu orangnya keren dan berwawasan luas. Tentu saja iya, Fatih adalah salah satu mahasiswa berprestasi di kampusnya. Dia selalu mendapat beasiswa dan aku semakin menyukainya.

"Di, aku mau bilang sesuatu," ucap Mira setelah meninggalkan Fatih sendirian dibawah pohon.

"Apa Ra?"

"Fatih suka sama aku, dia bilang bulan depan mau melamar ku Di, Alhamdulillah," ucapnya antusias sembari memelukku.

Langit seperti mendengar cerita dari Mira dan bisa menebak isi hatiku, ikut menumpahkan kekecewaan. Bagaimana bisa, aku yang 7 tahun memendam rasa terkalahkan oleh mira sahabatku yang dikenalnya sebulan lalu.

Aku bersyukur setidaknya hujan menutupi air mata yang mengalir di pipiku.

*****

Tatapanku kosong mencerna kata-kata​ yang diucapkan Mira tadi.

"Sampai malam dan kamu masih disini!" Seru Fatih.

Aku menatapnya dengan tatapan kosong.

"Tadi siang kamu menulis status akan mengungkapkan rasa ke seseorang, apa yang terjadi Di?"

"Bertepuk sebelah tangan. Dia mencintai orang lain."

"Terlalu bodoh lelaki itu, kamu sempurna Di. Tidak akan ada lelaki yang akan menolakmu."

"Kenyataannya memang begitu," ucapku datar.

"Di bajumu basah, mukamu pucat sekali. Ayo kita pulang. Bapak ibumu mencarimu."

Nafasku tersengal, dadaku sesak. Aku merasa aneh dengan tubuh ini. Tiba saja semua jadi gelap. Iya? Aku tak sadarkan diri.