"Menikahlah denganku."
Sebuah pesan mengejutkanku. Bagaimana bisa, setelah bertahun-tahun menghilang kini dia hadir lagi dan mengajak aku untuk menikah dengannya.
Dia Rasyid, mantan kekasihku semasa SMA dulu. Kami berpacaran selama dua tahun dan putus disaat kelulusan sekolah. Rasyid meneruskan untuk kuliah sedangkan aku bekerja. Awalnya kami masih berkomunikasi dengan baik, hingga lambat laun kita menghilang tanpa kabar.
Aku memutuskan untuk berhijrah dari perilaku yang kurang baik hingga berhijrah berbusana muslim dengan baik. Langkahku tak henti disitu, aku memutuskan untuk bekerja di luar negeri menjadi TKI. Hari ini genap sudah setahun aku bekerja di negara tetangga.
Hari-hari yang kujalani normal seperti biasa tapi tidak dengan detik ini setelah dia mengirim pesan untukku. Ada gejolak cinta yang muncul kembali, ada rasa aneh menyelimuti hatiku.
"Menikahlah denganku Maulita." Pesannya lagi dalam messenger. Aku berdegup, gugup, dan juga nervous. Ada sedikit air yang menetes dari mataku.
"Menikahlah denganku, aku tunggu kepulanganmu."
Pesan itu menjadi titik awal bermulanya cintaku yang hilang. Aku tau bahwa pacaran dalam Islam tidak dibenarkan. Tapi aku dan Rasyid tidak berbuat apa-apa, toh kami akan menikah setelah ini.
***
Setahun berlalu dengan cepat, aku pulang untuk menjeput cinta yang dulu kandas.
"Kamu semakin cantik dengan jilbab yang kamu pakai," sanjungnya padaku.
"Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku."
"Karna aku sudah berubah Maulita. Aku berhijrah."
"Kapan kamu mau menikahi aku mas Rasyid. Ini sudah sebulan aku pulang, tapi tidak ada kepastian apapun darimu."
"Bulan depan aku wisuda, setelah wisuda aku akan menikahi mu."
Semua normal seperti biasa, aku masih sering berkomunikasi dengannya lewat ponsel. Kami jarang bertemu hanya sesekali, itupun tidak lama.
Sebulan berlalu, Rasyid wisuda dengan IPK cumlaude. Aku merasa bangga padanya, terlebih lagi setelah ini kami akan menikah.
Cuaca begitu cerah. Iya, secerah hatiku. Hari ini aku akan bertemu dengan Rasyid. Sudah berbelas baju aku pakai, tapi tidak ada yang pas. Mungkin karena ini efek sangking semangatnya aku.
"Kita ketemu di terminal bus." Pesan singkat darinya. Aku mengerutkan kening, ada apa? Kenapa di terminal bus? Bukannya momen indah ini harus berada di sebuah taman?
Aku tergesa-gesa ketika melihat jam tangan yang aku kenakan. Berlari secepat mungkin, dan berharap bisa segera sampai di terminal bus. Aku melihat Rasyid menggendong tas ransel besar. Menanti kedatanganku.
"Mau kemana?" Tanyaku tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Aku harus pergi."
"Pernikahan kita?"
"Sabar Maulita, aku akan mencari modal untuk pernikahan kita. Aku ke luar kota untuk bekerja. Tolong bersabarlah."
Aku mengangguk, sebegitu luluhnya aku pada Rasyid.
***
Sehari, dua hari. Sebulan, dua bulan. Hingga setahun. Dia tidak ada kabar, aku mulai pasrah. Cinta terhadap makhlukNya memang menyakitkan. Air mataku menetes mengingat janjinya. Aku ikhlas.
Alarm ponselku berbunyi. Jam tiga pagi. Aku mengusap mata, melangkah keluar mengambil air wudhu. Berdoa dan memasrahkan semuanya kepada sang khalik.
Ponselku berbunyi lagi, kali ini bunyi notice dari Instagram. Satu pesan masuk.
"Assalamualaikum ukhti Maulita. Saya Arif, ingin berkenalan dengan ukhti lebih dekat. Jikalau ukhti bersedia saya siap membawa kedua orangtua saya besok." Mataku terbelalak melihat pesan singkat dari ikhwan yang belum aku kenal.
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana mas bisa mengirim pesan seperti ini?" Balasku.
"Saya sering stalking IG ukhti. Setelah sholat istikharah berulang kali, saya mantap mengatakan ini. Ijinkan saya untuk ke rumah ukhti."
"Bagi saya waktu tiga hari untuk memberikan alamat kepada kamu."
"Iya."
Aku mematikan semua jaringan komunikasi dari dunia nyata maupun dunia maya. Aku benar-benar bermunajat kepada Allah selama tiga hari. Hingga akhirnya aku memberikan alamat rumahku padanya.
***
Arif datang bersama kedua orangnya. Meminta izin kepada orang tuaku.
"Bagaimana Maulita?" Tanya bapak padaku. Aku hanya terdiam menunduk malu.
"Kalaupun Maulita belum bersedia, saya siap untuk berta'arufan lebih dahulu."
"Beri waktu saya satu bulan untuk mengenalmu," ucapku gugup.
Dari dalam budhe Sri, kakak ibuku keluar sambil membawa teh untuk Arif dan orang tuanya.
"Loh, pak Basuki? Ternyata yang mau jadi besan saya pak Basuki?" Ucap budhe membuat seisi rumah kaget. Ternyata bapak Arif adalah teman budhe Sri semasa sekolah dulu. Kedua orang tuaku semakin mantap dengan acara lamaran ini.
***
Kurang seminggu acara pernikahanku, setiap hari ku isi dengan mendatangi majelis ta'lim dan bertadarus. Mendekatkan diri pada sang pencipta.
"Aku ingin bertemu denganmu, temui aku sekarang ." Untuk kesekian kalinya aku terkejut dengan pesan seseorang.
"Apa kabar Maulita?" Sapanya. Aku hanya terdiam menunduk.
"Kamu tidak rindu padaku?" Lagi-lagi aku menunduk tak menjawab.
Aku memberikan kartu undangan pernikahan padanya. Sontak membuatnya terkejut.
"Kamu akan menikah?" Tanyanya. Aku memandanginya, terlihat dia sangat terpukul dengan kabar ini.
"Bagaimana bisa ini terjadi!" Serunya.
"Kamu pergi tanpa kabar," ucapku lirih.
"Aku pergi untuk kamu Maulita. Aku tidak memberikan kabar agar kamu tidak dirundungi kerinduan!"
"Kamu salah mas Rasyid! Justru dengan menghilangnya kamu membuatku semakin resah!"
"Menikahlah denganku Maulita!"
"Aku tidak bisa!"
"Menikahlah denganku Maulita!"
"Aku sadar, bahwa mencintai makhlukNya hanya akan menyiksa diri. Aku sadar usiaku sudah tidak muda lagi. Itu kenapa aku selalu meminta dan bertanya padamu kapan akan menikahiku. Tapi tidak ada tindakan yang jelas darimu. Aku sudah mengikhlaskan semua rasa yang pernah ada. Kali ini aku mencintai seseorang karena hanya ingin mengharapkan ridho Allah. Aku sudah yakin akan jalanku ini. Maafkan aku mas Rasyid," ucapku berlalu meninggalkannya.
Aku menoleh kebelakang dan menghampirinya lagi.
"Kalau tidak keberatan, jadilah saksi dipernikahanku nanti," ucapku padanya. Jelas sekali terlihat raut kecewa darinya.
Aku melangkah menjauh darinya, menghembuskan nafas. Berulang kali aku beristighfar. Aku ikhlas akan rasa dulu yang pernah hadir. Kini Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik.