Angga menarik tanganku dengan erat, menatap dengan tajam, dan tersenyum manis kearahku. Aku mengikutinya dari belakang. Melewati semak belukar, dan hamparan sawah.
Kami terdiam sejenak melepas lelah, lantas tertawa bersama. Mentertawai diri sendiri, karena sering berhenti. Awan putih selalu mengikuti kami. Mengerti sekali bahwa hari ini, aku ingin bersamanya. Setelah sebulan kami tidak pernah bertemu.
"Na, kita hampir mau sampai."
"Oh ya?" Jawabku tersenyum lebar.
Angga semakin menggenggam tanganku dengan erat, dimana kaki melangkah Angga selalu menarikku. Seperti tak ingin dilepaskannya.
Tiba-tiba Angga menutup mataku, lalu menuntunku naik keatas bukit. Membuka telapak tangan yang menutup tanganku.
"Na, lihatlah," ucapnya. Aku menganga melihat pemandangan indah di depan mataku, air mataku menetes.
"Na, mau kah kamu menjadi pacarku?" ucapnya.
Lidahku kelu, aku semakin deras meneteskan air mata.
"Kok nangis?"
"Ngga? Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang kamu bilang?"
"Maksudmu?"
"Kenapa kamu baru bilang setelah dia hadir di kehidupanku? Kenapa Ngga?"
"Aku ngga ngerti Na! kenapa?"
"Tadi malam, ada pria meminangku."
"Kenapa kamu ngga cerita?"
"Aku kira, kita hanya sahabat selamanya. Kamu ingat Ngga? Dua bulan lalu kita mendaki dan kamu bawa teman SD mu? Ingat Ngga?"
"Jadi dia Na?"
"Kamu mencintainya?
"Aku kira, hanya Anton yang suka dengan ku. Aku menyukaimu sejak kita berteman. Tapi kamu tidak pernah melihat itu, setiap hari kamu cerita tentang pacar-pacarmu itu. Aku hanya diam dan menyembunyikan perih. Kenapa baru sekarang kamu bilang itu ke aku Ngga?" Aku menangis tersedu, ntah harus bagaimana aku. Senang ataukah sedih.
Angga membalikan badan, lantas terduduk lunglai. Menundukkan kepalanya, mengusap air matanya.
"Maafkan aku Na, aku tidak pernah memperhatikanmu hingga kamu dekat dengan pria lainpun aku tidak tau. Maafkan atas kebodohanku ini Na!"
***
(bacanya sambil dengerin lagu pupus ya??)











