Universitaas Wahid Hasyim

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, September 1, 2018

Kau Lupa Membawa Cintamu



Jika dengan Tuhan aku berpuasa
Maka denganmulah aku berpuisi”

Mentari mulai surut, kakiku enggan sekali beranjak pergi. Aku masih menikmati segelas susu hangat yang baru saja aku pesan. Bersamaan dengan air mata yang masih betah bergelantungan di pipiku.

“Soal cinta?” Sapa seseorang di sampingku.
Aku memandang sekilas, berambut acak-acakan, kumis tipis dan janggut tipis. Dia tersenyum sinis lalu menghembuskan asap rokoknya.

“Kau tahu?” Ucapnya sambil memandangku serius, “aku akan jadi suamimu kelak!” Lanjutnya dengan nada serius dan tatapan tajam.

Aku masih terdiam membisu, siapa dia beraninya meramalkan hal bodoh seperti itu. Lagi pula kami memang tidak saling mengenal.
Mentari mulai tak menampakkan dirinya, lantas aku beranjak pergi meninggalkan orang yang tak ku kenal itu.

Aku terdiam membisu, mataku terpejam. Mengingat perkataan Dhani beberapa tahun lalu,

“Aku pergi untukmu Nin, aku tak akan mengkhianatimu. Pulang nanti akan ku lamar kamu. Percayalah padaku.”

Aku menghalang nafas, ku ambil kartu undangan pernikahan dari tas kecilku. Tertulis Dhani Prakasa dan Ayu Maulina. Aku kembali meneteskan air mata.

Beberapa bulan sebelum undangan itu berada di tanganku, dia masih sempat menggombal dan bercanda denganku lewat chatting. Aku yang terlalu bodoh atau dia yang terlalu jahat, hingga dia berani berkhianat.

Aku merebahkan tubuhku, berkali-kali aku memejamkan mata. Tapi nihil, aku bukannya tertidur malah terngiang perkataan pria di warung itu.

“Ting..” satu pesan masuk lewat WhatsApp.

“Hai calon istri, tidak bisa tidur karena putus cinta? Hidupmu terlalu serius, hahaha.”

“Kau siapa?” balasku

“Calon suamimu.”

Aku tidak tahu mengapa dia bisa mendapatkan nomorku, siapapun dia. Aku mulai penasaran dengannya.
--

Sebulan berlalu, aku tetap tidak bisa move on dari Dhani. Meski ku tahu dia sudah bahagia dengan istrinya sekarang. Aku sengaja tak datang di pernikahannya, karena aku terlalu takut berpisah dengannya. Bertahun-tahun aku mencintainya. Dan pada akhirnya, rasa pahit harus ku telan.

“Buk, susu hangat satu,” pesanku pada Bu Sum.

“Masih suka aja sama susu, sekali-kali nyoba kopi. Dijamin ketagihan,” ucap pria waktu itu.

“Kok disini?” tanyaku heran.

“Aku kan calon suamimu, jadi dimanapun ada kamu, pasti ada aku juga."

“Sebenarnya kamu siapa sih?”

“Kenalakan! Aku Raka, penggemar puisimu.”

“Puisiku?”

“Iya, kamu terakhir berpuisi setahun lalu di blogmu. Jika dengan Tuhan aku berpuasa, maka denganmulah aku berpuisi. Dan sejak itu blogmu ngga pernah terisi, setiap hari aku melihat blogmu berharap ada pusismu lagi, tapi nyatanya kamu menghilang.”

“Sebulan lalu kamu chating aku, dapat nomor dari siapa? Dan kenapa juga setelah itu kamu menghilang dan sekarang muncul lagi.”

“Kamu ini, selain lucu, puitis, cantik, tapi pelupa juga. Kan di blog pribadimu ada nomor telpon dan alamat rumah.”

“Eh, masak sih?” tanyaku keheranan. Kamipun tertawa bersama.

Raka hadir tepat waktu, benar juga kata pepatah. Cinta akan datang tepat waktu. Berawal dari gombalnya yang receh itu, dia mulai meluluhkan hatiku. Rasa itu semakin hari semakin indah.
Setiap hari dia selalu menyapaku lewat chat whatsapp. Dan tak jarang dia mengajakku berkencan. Orangnya ramah, lucu, dan sederhana.

Senja mulai muncul, Raka menggandeng tanganku dengan mesra. Tak sengaja kami berpapasan dengan Dhani dan istrinya.

“Apa kabar Nin?” Sapanya.

“Baik,” jawabku singkat.

“Kenalkan, aku Raka. Calon suami Nindi, sebentar lagi kami akan menikah.”

“Wah selamat ya?”
--

Sebulan, dua bulan berlalu. Aku semakin mencintai pria yang dulu berambut acak-acakan itu. Setelah mengenalnya, aku menghidupkan blogku lagi. Dan setiap hari selalu ada puisi untuknya.

Hingga suatu hari, tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak, persis sehari setelah dia melamarku. Nomornya tidak aktif, dan rumahnya kosong. Tiada siapapun yang ku kenal kecuali dia dan keluarganya.

Tiga bulan berlalu.

“Ting..” bunyi pesan masuk.

“Hai calon istriku, maafkan aku menghilang beberapa bulan ini. Kau baik-baik saja? Aku juga baik. Kau rindu aku? Aku juga. Hei calon istriku, beberapa bulan ini kamu tidak berpuisi untukku? Cintamu sudah hilangkah?”

“Kamu di mana Raka? Kenapa menghilang?”

“Aku tidak menghilang, aku ada kok. Aku ada di hatimu.”

“Raka aku serius!”

“Maafkan aku Nin, aku lupa membawa cintaku.”

“Maksudmu?”

“Sekarang kamu keluar rumah, di bawah ada adikku. Ikutlah dengannya.”

Aku segera berkemas dan turun tangga. Ku buka pintu rumah, ada Ressa sedang berdiri menungguku.

“Raka di mana?”

“Ikutlah aku kak, kak Raka ingin bertemu denganmu.”

Aku berjalan di samping Ressa dan naik mobil sedannya.

“Kita ke mana?”

“Ketemu kak Raka. Kak Raka sering cerita tentang kakak, sejak dia membaca puisi kakak. Waktu dia chat kakak untuk pertama kalinya, itu karena aku yang menyuruhnya. Tapi setelah itu penyakit dia kambuh, dan menghilang selama sebulan. Dan setelah itu dokter bilang bahwa dia sembuh total. Kemudian, kak Raka memberanikan diri lagi untuk mendekati kakak. Tiga bulan lalu, penyakit itu kambuh lagi. Dan tiba-tiba kak Raka menghilang. Maafkan aku kak,” ucapnya sambil menangis. Aku masih terdiam membisu tak mengerti.

Aku melangkah di samping Ressa, melewati beberapa nisan. Perasaanku sudah tidak enak. Dan sejak dari tadi air mataku mengucur. Ressa berhenti melangkah, dan di sana tertulis nama seseorang yang akhir-akhir ini ku tulis namanya dalam puisiku. Raka Sanjaya.

Aku terjatuh di atas pusarannya, terdiam dan hanya meneteskan air mata. Seseorang yang bisa membuatku move on, lupa membawa cintanya.

-Dian