Universitaas Wahid Hasyim

Saturday, October 21, 2017

The Gondrongs

Suatu kesempatan yang menarik bagi saya bergabung di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Di mana saya akan mengembangkan bakat dan minat yang mengarah ke jurnalistik.

Sabtu malam, 21 Oktober 2017. Di Tembalang Semarang, LPM  Menteng mengadakan PJTD (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar). Ada tiga mahasiswa aktivis di LPM dan PPMI. Bukan siapa dia dan apa jabatan dia yang akan saya bahas. Melainkan, mengapa mereka bertiga berambut gondrong? Apakah anak sastra dan seni itu identik dengan rambut gondrong? Itu yang ada di benak saya.

Mas Maheng, menceritakan sebuah kisah di masa orde baru mengenai rambut gondrong.
Anak muda zaman orde lama lazimnya berwatak keras lantaran sedari kecil telah disuguhi pergolakan politik. Pada Orde Baru, anak muda sudah dimanjakan lantaran semua urusan politik ditangani oleh bapak.

Anak muda dan masyarakat di luar pemerintahan disematkan status floating mass atau massa mengambang. Floating mass ditandai oleh reduksi intensitas peran politik masyarakat menjadi hanya lima tahun sekali, yakni ketika Pemilu saja.

Selain itu, invasi budaya luar ke Indonesia pada masa Orde Baru lebih masif ketimbang di era sebelumnya. Anak muda mulai mengenal budaya hippies yang dianggap memberi pengaruh buruk pada masa itu.

Salah satu simbol budaya hippies adalah rambut gondrong pada lelaki, kendati gondrong tak hanya simbol dari budaya itu saja. Kemudian lahirlah kebijakan pemerintah yang mengejutkan, yakni pelarangan rambut gondrong untuk kaum laki-laki.

Media massa di masa Orde Baru secara intensif mengonstruksi stigma buruk terhadap anak muda berambut gondrong. Misalnya di harian Pos Kota tanggal 5 Oktober 1973 yang memuat berita berjudul “7 Pemuda Gondrong Merampok Bis Kota”.
Itu mengapa rambut gondrong pada masa itu salah satu perlawanan atas doktrin yang negatif tersebut.

Selain itu, mas Maheng menjelaskan bahwa rambut gondrong adalah salah satu sunnah Nabi. Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)
"Saya memanjangkan rambut bukan karena perlawanan ataupun sunnah Nabi. Melainkan saya ingin tampil beda di kehidupan sehari-hari, terutama di keluarga," jelasnya.

Adapun mas Tamam, selaku Sekjen LPM berbicara tentang rambut gondrongnya. "Saya ingin menikmati ciptaan Tuhan, dengan cara memanjangkan rambut. Dan itu adalah kebebasan."

"Orang itu berhak memilih sesuatu, asal dia berani dan selalu jujur dalam apapun yang dia buat," tambah mas Maheng.

Suatu alasan yang menurut saya masuk akal. Semua adalah pilihan masing-masing. Tidak ada yang melarang asal itu tetap ada pada norma agama dan bangsa. Dan mereka ingin membuktikan bahwa doktrin negatif gondrong itu salah.

Semarang, 21 Oktober 2017
Dian Al Qomariyah

3 comments: