Ayat-Ayat Cinta 3
-Dian Al Qomariyah-
"Bangun sayang?" Ucap Fahri membelai rambut Aisyah.
Aisyahpun terbangun, matanya berbinar melihat sosok laki-laki yang ada di depannya. Dia tersenyum lantas mengecup kening suaminya. Malam itu mereka menunaikan sholat tahajud bersama. Lantas menjadikan kisah cinta mereka di jalan Allah.
Umar semakin lama semakin besar, usianya kini menginjak 10 tahun. Setelah sekian lama akhirnya Aisyah hamil lagi. Hamil anak kedua dari pernikahannya dengan Fahri. Anak pertama mereka keguguran saat berada di Palestina. Maka dari itu mereka sangat menjaga kehamilannya yang kedua.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Umar dinyatakan lulus terbaik di high school Endiburgh. Sesuai nazarnya, dia ingin melanjutkan kuliah di UNDIP salah satu universitas terbaik di Indonesia. Umar sangat menginginkan belajar di tanah kelahiran ayahnya.
Di Semarang Umar tinggal bersama dengan Fatimah, adik dari ayahnya. Sedangkan Ayah, Bunda, serta adiknya yang masih berusia 3 tahun masih tetap tinggal di Endiburgh.
Presentasi kali ini membahas tentang masalah yang ada pada mahasiswa, yang di sajikan oleh Umar bin Fahri. Umar menjelaskan dengan seksama dan rinci. Saat sesi tanya jawab, ada salah satu mahasiswa yang bertanya mengenai masalah mahasiswa yang berstatus sudah menikah.
Semua mahasiswa dan dosen menatap Umar dengan penuh keseriusan.
"Ijinkan saya menjawab," ucap mahasiswi kepada moderator.
"Silahkan."
"Saya Dian, ijinkan saya menjawab pertanyaan tadi. Menikah merupakan sebagian penyempurnaan agama, jadi jika ada mahasiswa dan mahasiswi yang siap untuk menikah dan mereka menundanya itu malah tidak dianjurkan karena beresiko untuk melakukan hal yang mendekati zina. Menikahlah, toh pihak kampus tidak melarang mahasiswanya berstatus menikah," Jelasnya panjang lebar.
Umar terpesona dengan penjelasannya. Dia juga terpesona dengan teduhnya wajah wanita itu. Pakaiannya tidak mencolok, hanya rok panjang hitam dan baju batik serta jilbab yang menutupi dadanya, tidak lebar dan tidak pendek. Matanya bersinar. Saat menjelaskan beberapa kali mata mereka beradu, membuat hati Umar mendesir.
Presentasi kali ini sangat responsif, banyak hal yang ditanyakan. Tidak membosankan seperti presentasi sebelumnya. Mungkin tema juga mempengaruhi.
Sudah empat kali pertemuan, baru kali ini Umar melihat wanita itu. Saat di perpustakaan tak sengaja mereka bertemu.
"Umar," ucap Umar saat duduk di dekatnya.
"Dian," jawabnya tersenyum lantas kembali pada buku yang dibacanya.
"Kamu jarang masuk?"
"Oh iya, saya hanya masuk beberapa kali, dan itupun saya kurang aktif di dalam kelas."
"Dian, bisa ajak aku keliling Semarang? Aku baru disini."
"Oh, saya tau itu Umar. Kamu lulusan terbaik di luar negeri. Tapi aneh sekali, kamu malah kuliah di sini. Apa hebatnya di sini?"
"Setiap orang mempunyai keinginan tersendiri. Tidak terkecuali aku!"
Hampir sebulan Dian menjadi tourgaid Umar di Semarang, biasanya seuisai jam kuliah mereka jalan mengelilingi kota Semarang menggunakan angkutan umum atau bis BRT. Rasa itu semakin kuat, Umar benar-benar telah jatuh cinta pada wanita sederhana itu.
"Dian," ucap Umar saat berjalan mengelilingi bangunan tua Lawang Sewu.
"Iya," jawab Dian tanpa menoleh ke Umar.
"Jika semester depan aku melamarmu, apakah kamu bersedia?"
Jantung Dian hampir berhenti berdetak, mulutnya tiba-tiba kelu. Ada rasa yang tak biasa merasuk ke dalam hatinya. Berkali-kali ia istighfar dalam hati.
"Kenapa diam?"
"Pernikahan bukan hal yang main-main Umar, ada hal banyak lagi yang harus dipikirkan."
"Aku sudah istikharah, dan aku mantab. Sesuai penjelasan kamu waktu presentasi beberapa bulan lalu."
"Izinkan aku berfikir dan istikharah dulu. Insyaallah minggu depan aku beri jawabannya."
-Dian Alima







0 comments:
Post a Comment