Universitaas Wahid Hasyim

Wednesday, June 13, 2018

Di Tengah Ribuan Jomblo

“Ping.. Ping.. Ping..” untuk kesekian kali BBM Sesha berbunyi. Tanpa memperdulikan handphonenya yang terus berbunyi, Sesha menatap cliennya dengan serius, mengamati setiap ucapannya.
“Coba kamu ulangi lagi, saya bingung dengan jalan ceritamu,” ucapnya serius.
“Kami dijodohkan oleh kedua orangtua kami. Sebagai anak yang ingin berbakti kepada kedua orangtua. Saya meng’iya’kan rencana mereka. Tanpa ragu saya menerima tawaran itu. Tapi,” dia menghentikan ceritanya, mulutnya kelu, air matanya mengalir deras. Sesha segera memeluknya.
“Kalau kamu tak sanggup, cukupkan saja!”
“Tidak! Saya akan tetap melanjutkan cerita ini, saya sudah terlalu menderita dengan keadaan ini.”
“Oke, lanjutkan ceritamu!”
“Kami belum menikah, status kami masih berpacaran. Malam itu hujan turun sangat deras, kami habis keluar malam layaknya pemuda jaman sekarang. Hujan itu mengharuskan kami untuk menepi, sayangnya tidak ada toko maupun rumah warga yang kami lewati. Semuanya hamparan sawah luas, kami sudah basah kuyup. Lima belas menit perjalanan, kami menemukan sebuah gubuk di tepi sawah, kami bermalam disitu. Dia berkata pada saya, akan menikahi saya dan lagi pula kami sudah dijodohkan. Dan,” clien itu kembali terisak, Sesha segera memeluknya dengan erat. Tanpa dilanjutkan Seshapun sudah tau apa yang terjadi pada malam itu.
“Sampai sekarang dia belum ada kabar!” lanjutnya.
“Kamu hamil?” tanya Sesha.
“Saya tidak hamil, tapi kehormatan saya sudah hilang. Apa yang harus saya lakukan? Saya malu,” tangisnya mulai keras.
“Takdir tidak bisa diubah, itu sudah menjadi kehendakNya. Kamu pasti bisa menangani masalahmu ini, ijinkan saya memberi sedikit masukan. Jujurlah pada kedua orangtuamu tentang hal ini, setelah itu kau ikhlaskan dia jika memang dia pergi meninggalkanmu. Dan satu lagi, jangan pernah berpacaran. Tumbuhkan dalam hatimu JOSH (Jomblo Sampai Halal). Suatu hari nanti, pasti akan datang pangeran yang siap menerimamu dengan apa adanya, bukan ada apanya. Dan kembalikan lagi urusanmu kepada yang memiliki skenario hidup.”. Clien itu menatap Sesha, terlukis senyum dibibirnya.
“Setidaknya, ucapanku ini sedikit membantu meringankan bebannya,” gumam Sesha.
Jalanan terlihat begitu sepi, jus orange yang tadinya penuh kini hanya tinggal setengah gelas. Jam menunjukan pukul 2.15 p.m.
“Telat 15 menit,” gumam Sesha sembari menaik turunkan jari telunjuk dilayar handphonenya,
“Al Qomariyah, beruntungnya kau!” gerutunya dalam hati, menatap dengan serius dilayar handphonenya.
“Kak Sesha ya? Maaf telat. Aku Rani kak, yang ingin berbagi cerita dengan kakak,” ucap seorang gadis berjilbab lebar yang terlihat matanya sembab, entah karena kurang tidur atau kebanyakan menangis.
“Oke, silahkan duduk dan ceritakan padaku,” jawab Sesha singkat.
“Pemuda itu datang ke kampusku kak, dengan dua temannya dia malu-malu menemuiku. Tak disangka, dia memberikan proposal ta’aruf  kepadaku didepan sahabatku. Waktu itu, aku bak seorang putri yang bertemu dengan pangeran gagah berani menerjang kemaksiatan,” ucap Rani tersenyum.
“Terus apa masalahnya?” tanya Sesha. Rani mencoba membetulkan posisi tempat duduknya dan bercerita kembali.
“Cerita kami seperti di novel islami best seller. Kami tidak mengenal istilah pacaran yang sedang dilakukan oleh kebanyakan gadis seusiaku. Bahkan tatap mukapun kami tidak berani.”
“Pasti sekarang kalian sudah menikah ya? Ah kamu ini Ran, bikin kakak baper saja,” sela Sesha. Rani hanya tersenyum menunduk dan menghelang nafas.
“Sudah dua minggu aku menggantungkannya tanpa ada kepastian. Sahabatku sering bertanya kapan jawaban itu ada. Dan apakah kamu tau kak, kejadian kemarin? Aku BBMin kakak tapi tak ada satupun yang kakak read, aku tau kakak waktu itu pasti sedang sibuk.”
“Kejadiana apa Ran?”
“Kemarin siang rencananya aku memberikan jawaban kak. Dia adalah kakak seniorku, sejak pertama kali aku masuk kuliah aku sudah menyukainya. Kejadian dua minggu lalu itu seperti mimpi karna kita tak pernah berkomunikasi, tapi dia memberikan proposal ta’aruf kepadaku. Sejak aku menerima proposal itu, aku melakukan sholat istikhoroh. Anehnya selama dua minggu tak ada jawaban apapun dari Allah kak. Kemarin tepat hari kedua minggu aku memberanikan diri untuk memberi jawaban iya. Tapi kak,” Rani menghentikan ceritanya. Nafasnya tersengal, air matanya menetes,
“Aku melihatnya melambaikan tangan kearahku, dengan tergesa dia lari kearahku menyebrang jalan. Kamu pasti tau yang terjadi kak!” Rani menatap tajam mata Sesha. Sesha hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca.
“Dia, dia, dia,” tangisan Rani pecah. Dengan sigap Sesha memeluknya.
“Cukup Rani! Cukup!”
“Kak Sesha, Rani melihat kak! Darahnya banyak, darahnya banyak kak. Tubuhnya terbaring ditengah jalan, mukanya pucat, dan,” suara Rani serak, air matanya mengalir deras,
“Dan, matanya terpejam kak, dia tak bergerak. Aku bodoh kak! Aku tak bisa menolongnya, aku bodoh! Aku membiarkannya pergi begitu saja,” tangisan Rani tidak bisa dikontrol lagi,
“Maafkan Rani kemarin mengganggumu kak, Rani bingung mau cerita ke siapa lagi selain kakak. Dan maaf lagi kak, karena Rani telat limabelas menit. Tadi Rani ikut kepemakamannya dulu untuk melihat yang terakhir kalinya.”
“Tidak Rani! Seharusnya yang minta maaf itu kakak, karena kakak lebih mementingkan ego kakak. Rani tolong tatap mata kakak. Kamu gadis cerdas, kamu gadis sholihah. Hanya karna takdirNya kamu tumbang? Itu bukan kamu namanya! Kakak belajar banyak hal didiri kamu. Terutama tentang JOSH, kamu benar-benar gadis yang menginspirasi kakak. Ran, tetap bentangkan JOSH, dan ikhlaskan dia. Itu semua sudah menjadi rencanaNya. Kakak yakin, suatu hari nanti akan ada pemuda sholih yang bisa bangkitkan senyummu lagi. Ingat Ran, Allah tak pernah ingkar janji,” ucap Sesha memeluk Rani.
Sudah dua hari Sesha mendengarkan cerita sedih dari cliennya. Rasanya tidak adil sekali bagi Sesha, diapun punya segudang masalah tentang hatinya. Tapi dia mau berbagi cerita dengan siapa, selain dengan Allah. Tiba saja handphonenya berbunyi tanda pesan messanger masuk.
“Assalamu’alaikum, maaf mengganggumu Sesha. Saya butuh kamu untuk bersandar, saya clien jomblo kamu.” Pesan seorang akhwat. Tiba saja jantung Sesha berdebar, tak pernah dia merasakan perasaan ini sebelumnya. Dia seperti tersambar petir disiang bolong.
“Kita berteemu di kampusmu siang ini. Aku tunggu kamu pukul 2 p.m.” pesannya kemudian yang dikirim lewat messanger.
Sesha melangkah perlahan kearah akhwat yang memintanya untuk bertemu dikampusnya. Akhwat itu sepertinya sudah lama menunggu Sesha, tapi jam masih menunjukan pukul 1.45 p.m.
“Assalamu’alaikum, lama menunggu ya?” sapa Sesha terlihat kaku.
“Wa’alaikumsalam, Sesha?” jawab akhwat itu sembari memeluk Sesha,
“Kangen tauk sama kamu! Jahat kamu ya? Nglupain sahabatmu ini, taulah yang sudah jadi penterapi asmara, ciyeee,” goda akhwat yang berdiri didepan Sesha.
“Kamu mah lebay deh. Oh iya? Mau cerita apa?”
“Gini Sha,” ucapnya sembari duduk,
“Entah aku mau memulainya dari mana. Cinta itu gak bisa ditebak ya Sha? Aku kira aku bakal jatuh cinta dengan pemuda yang pandai baca Al-qur’an. Ternyata itu salah besar, aku malah jatuh cinta sama pemuda gondrong, berjanggut, dan berkumis.”
“Aku sudah membacanya di facebook! Aku sering stalking facebook kamu, baca-baca statusmu tentang JOSH, kegalauanmu tentang dua pemuda itu,” gumam Sesha dalam hati.
“Beri aku solusi Sha! Kok malah diem mulu.”
“Bukannya kamu seminggu lalu dikasih proposal ta’aruf sama kang Faikar ya?” tanya Sesha.
“Itu dia permasalahannya kenapa aku ngajak kamu ketemuan disini. Bantu aku dong Sha?”
“Minta bantuan sama Allah. Sholat istikhoroh.”
“Astaghfirullah, aku lupa Sesha! Alhamdulillah kamu ngingetin aku untuk sholat istikhoroh. Gak salah aku ngajak kamu ketemuan. Makasih ya Sesha,” ucapnnya memeluk Sesha.
Langkahnya semakin lama semakin hilang. Tatapan Sesha tertuju pada layar handphonenya.
“Beruntungnya kamu Al, dapatin proposalnya kang Faikar. Bahkan yang setiap kali hujan turun aku selalu menyebut namanya. Aku tak pernah mendapatkan perhatiannya, hanya sekedar senyumannyapun aku tak dapat,” Sesha menghelang nafas panjang.
“Aku Sesha, seorang penterapi asmara tapi tak bisa menterapi asmaranya sendiri. Aku Sesha, seorang jomblo yang berdiri ditengah ribuan jomblo.”

Cerpen juara I pada event yang diadakan UT Penang 2016 lalu.

0 comments:

Post a Comment