"Di, ini uang dari ayahmu. Beliau kasihan lihat kamu pakai kacamata retak seperti itu."
Aku langsung melepas kacamataku, memandangnya. Memang ada retak, bahkan tangkai kacamatanya sudah sering ku tambal.
"Uang empat ratus ribu. Kata ayahmu khusus buat membeli kacamata."
"Iya bu, nanti Dira bilang terimakasih sama ayah."
Selepas sholat Maghrib dan buka puasa. Aku berterimakasih kepada ayah. Meminta ijin bahwa besok uangnya akan langsung dibelikan kacamata yang baru.
Aku meminta tolong Aska kekasihku untuk mengantarku ke optik. Meski jarak kita jauh, tapi dia dengan senang hati mau mengantarku. Setelah berpamitan kami pun pergi.
"Kamu pengen kacamata yang kaya apa Di?"
"Yang biasa aja Ka, yang penting nyaman."
Kami menghabiskan waktu perjalanan dengan mengobrol hingga jarak yang jauh tak terasa. Sesampainya di optik aku dibantu Aska memilih kacamata yang pas untuk ku pakai.
"Apapun yang dipakai kamu pasti cantik Di."
Aku memukul lengannya, tatkala karyawan optik memandangi ku dan Aska. Bukan aku tak mau di puji seperti itu, tapi aku malu jika di tempat umum seperti ini.
"Kok malah mukul," ejeknya sambil tertawa. Aku hanya terdiam tak menjawab.
Setalah selesai memilih, aku masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa mataku. Minusku tidak bertambah dan tidak berkurang. Aku dan Aska harus menunggu 2 jam untuk mengambil kacamata tersebut.
"Jalan-jalan dulu aja yuk, sekalian nyari tempat buat buka nanti," ungkap Aska. Aku hanya mengangguk daripada kelamaan menunggu di optik.
Aku diajak mengelilingi kotanya Aska, rumah kami memang jauh. Ada jarak ratusan kilometer memisahkan kami. Setelah berkeliling dan menemukan tempat, kami kembali ke optik untuk mengambil kacamata.
"Cantik," puji Aska tatkala aku memakai kacamata yang baru.
Aku sangat berhati-hati dengan kacamata baru yang uangnya dari ayah hasil keringatnya bekerja. Aku tersenyum sendiri mengingat pengorbanan ayah.
Aska memacu motor dengan pelan. Tak disangka dari arah berlawanan sebuah motor berpacu sangat kencang hingga menabrak motor yang kami naiki. Aska terpental ke pinggir jalan. Sementara aku terseret jauh.
Aku merasakan kram si sekujur tubuh. Ada banyak lumuran darah dari tubuhku, aku tidak tahu mana yang luka. Yang aku tau aku berlumuran darah. Banyak orang menghampiriku. Aku digendong oleh bapak paruh baya.
"Kacamataku, tolong!" Teriakku sebisa mungkin.
"Kacamata dari ayahku!" Aku kembali berteriak seraya menangis.
"Kacamataku tolong carikan pak! Itu dari ayah," aku meminta tolong kepada orang yang sedang mengelilingiku.
Beberapa orang langsung sigap mencari kacamataku. Aku tidak tau keadaan Aska, yang terpenting untukku saat ini kacamataku utuh. Aku merasa nyeri yang sangat dalam. Aku masih melihat beberapa orang sedang mencari kacamataku. Aku tak tahan, badanku sakit semua. Hingga aku tak tau lagi apa yang terjadi, dan aku juga tak tau bagaimana nasib kacamata pemberian dari ayahku.







Mesti ending e gantung.. 😑
ReplyDeleteTeknik buat cerpen va. Ben pembaca penasaran 😂
DeleteCeritanya menarik tpi syangnya endingnya msih dipertnykn :)
ReplyDeleteDigantung biar bisa diserieskan nantinya 😅
Delete